Lanjutan 2 : Pasal Hakekat Ilmu dan Fiqih Serta Keutamaannya Kitab Taklim Mutaalim



(والعلم وسيلة إلى معرفة: الكبر، والتواضع، والألفة، والعفة، والأسراف، والتقتير، وغيرها)، وكذلك فى سائر الأخلاق نحو الجود، والبخل، والجبن، والجراءة. فإن الكبر، والبخل، والجبن، والإسراف حرام، ولايمكن التحرز عنها إلا بعلمها، وعلم ما يضادها، فيفترض على كل إنسان علمها.

Dan wajib juga atas orang islam mencari ilmu yang menjadi perantara mengetahui sifat sombong, rendah hati, penyayang, iffah (menjaga diri dari keburukan), boros, pelit, dan selainnya. Demikian pula dalam seluruh akhlak seperti dermawan, bakhil, pengecut, dan berani. Karena sifat sombong, kikir, pengecut, dan boros adalah haram.

Dan tidak mungkin terjaga dari sifat-sifat itu tanpa mengetahui ilmunya serta ilmu cara menghilangkannya. 

Maka wajib atas setiap orang islam mengetahui ilmunya.


وقد صنف السيد الإمام الأجل الأستاذ الشهيد ناصر الدين أبو القاسم كتابا فى الأخلاق ونعم ما صنف، فيجب على كل مسلم حفظها.

Dan sungguh As-Sayyid Al-Imam Al-Ajal Al-Ustadz Asy-Syahid Nashiruddin Abu Qosim telah menyusun kitab yang membahas tentang akhlak. Kitab tersebut sangat bermutu, maka sepatutnya atas setiap orang Islam menghapalnya.

وأما حفظ ما يقع فى الأحايين ففرض على سبيل الكفاية، إذا قام البعض فى بلدة سقط عن الباقين، فإن لم يكن فى البلدة من يقوم به اشتركوا جميعا فى المأثم، فيجب على الإمام أن يأمرهم بذلك، ويجبر أهل البلدة على ذلك.

Adapun mempelajari apa-apa (ilmu agama) yang jatuh (yang dikerjakan) dalam saat-saat tertentu maka hukumnya fardhu kifayah. Jika sudah ada yang mempelajarinya di suatu daerah, maka yang lain gugur dari kewajiban. Tetapi bila di suatu daerah tak ada seorangpun yang mempelajarinya maka seluruh orang di daerah itu berdosa. 

Maka pemerintah wajib memerintahkan masyarakat untuk mempelajari ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tersebut dan berhak memaksa mereka atas hal tersebut agar mereka melaksanakannya.

قيل: إن العلم ما يقع على نفسه فى جميع الأحوال بمنزلة الطعام لابد لكل واحد من ذلك. وعلم ما يقع فى الأحايين بمنزلة الدواء يحتاج إليه (فى بعض الأوقات).


Dikatakan: 

Sesungguhnya ilmu tentang ibadah yang jatuh pada diri sendiri dalam seluruh keadaan (yang hukumnya fardhu ain) itu ibarat makanan yang tidak boleh tidak, setiap orang membutuhkannya.

Sedangkan ilmu tentang ibadah yang jatuh sewaktu-waktu (yang hukumnya fardhu kifayah) itu ibarat obat, yang mana orang membutuhkannya di waktu-waktu tertentu.

وعلم النجوم بمنزلة المرض، فتعلمه حرام، لأنه يضر ولاينفع، والهرب عن قضاء الله تعالى وقدره غير ممكن.

Sedangkan ilmu nujum itu ibarat penyakit, maka mempelajarinya hukumnya haram, karena ilmu nujum membuat madharat dan tidak bermanfaat serta seakan-akan lari dari ketentuan dan takdir Allah taala, padahal itu tidak mungkin.

فينبغى لكل مسلم أن يشتغل فى جميع أوقاته بذكر الله تعالى والدعاء، والتضرع، وقراءة القرآن، والصدقات الدافعة للبلاء ، ويسأل الله تعالى العفو والعافية فى الدنيا والآخرة ليصون الله عنه تعالى البلاء والآفات، فإن من رزق الدعاء لم يحرم الإجابة. فإن كان البلاء مقدرا يصيبه لامحالة، ولكن يبر الله عليه ويرزقه الصبر ببركة الدعاء.

Maka seyogyanya bagi setiap orang Islam agar mengisi seluruh waktunya dengan dzikir kepada Allah taala, berdoa, memohon seraya merendahkan diri kepadaNya, membaca Al-Qur'an, bersedekah yang bisa memendam mara bahaya, serta memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah taala di dunia dan akhirat agar Allah taala menjaga dari mara bahaya dan macam-macam keburukan. Karena barang siapa yang diberi rejeki oleh Allah berupa doa, maka tidak tercegah dari ijabah, meskipun sekiranya mara bahaya ditakdirkan dan tidak mungkin tidak mengenainya, tetapi Allah menyembukannya dan memberinya rejeki berupa kesabaran dengan berkahnya doa.

اللهم إذا تعلم من النجوم قدرما يعرف به القبلة، وأوقات الصلاة فيجوز ذلك

Yaa Allah, jika mempelajari ilmu nujum sekedar untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu sholat, maka hukumnya boleh.

وأما تعلم علم الطب فيجوز، لأنه سبب من الأسباب فيجوز تعلمه كسائر الأسباب.    وقد تداوى النبى عليه السلام،

Adapun mempelajari ilmu kedokteran, maka hukumnya boleh. Karena ilmu kedokteran adalah sebab dari macam-macam sebab. Maka boleh hukumnya mempelajarinya seperti mempelajari berbagai macam sebab. 

Karena sesungguhnya Nabi saw pernah berobat.

وقد حكى عن الشافعى رحمة الله عليه أنه قال: العلم علمان: علم الفقه للأديان، وعلم الطب للأبدان، وما وراء ذلك بلغة مجلس.

Dan sungguh Imam Syafi'i rahmat Allah atasnya, berkata: 

"Ilmu itu adalah dua: ilmu Fiqih untuk mengetahui hukum agama dan ilmu kedokteran untuk memelihara badan, dan dibelakang itu semua adalah hanyalah penghias majlis."

وأما تفسير العلم: فهو صفة يتجلى بها المذكور لمن قامت هى به كما هو. والفقه: معرفة دقائق العلم قال أبو حنيفة رحمة الله عليه: الفقه معرفة النفس ما لها وما عليها. وقال: ما العلم إلا للعمل به، والعمل به ترك العاجل للآجل.

Adapun tafsirnya ilmu yaitu, ilmu adalah sifat yang menjadi terang sesuatu yang diketahui dengan sifat itu bagi siapa saja yang memiliki sifat itu dalam dirinya.

Dan fiqih adalah pengetahuan tentang lembut-lembutnya ilmu.Imam Abu Hanifah - rahmat Allah atasnya - berkata

"Fiqih adalah pengetahuan tentang perkara-perkara yang baik dan yang buruk bagi diri

Dan beliau berkata pula:

"Tidak ada ilmu kecuali untuk beramal dengannya, dan amal adalah meninggalkan dunia untuk akhirat."

فينبغى للإنسان أن لايغفل عن نفسه، ما ينفعها وما يضرها، فى أولها وآخرها، ويستجلب ما ينفعها ويجتنب عما يضرها، كى لايكون عقله وعمله حجة فيزداد عقوبة، نعوذ بالله من سخطه وعقوبه.

Maka seyogyanya bagi manusia jangan sampai lengah dirinya pada perkara yang bermanfaat dan berbahaya di dunia dan akhirat. Dan mengambil perkara yang bermanfaat serta menjauhi perkara yang berbahaya bagi dirinya agar akal dan ilmunya tidak menjadi beban dakwaan sehingga siksaan makin bertambah berat.

Kita berlindung kepada Allah dari murka dan siksaannya.

وقد ورد فى مناقب العلم وفضائله، آيات وأخبار صحيحة مشهورة لم نشتغل بذكرها كى لايطول الكتاب.

Dan sungguh mengenai ilmu dan keutamaan-keutamaannya banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits shahih yang masyhur mengemukakannya. 

Namun kami tidak mengutarakannya, agar uraian kitab ini tidak terlalu panjang. 

Posting Komentar