Definisi Akal Yang Sahih (Menurut Islam)

Artinya, panca inderalah --yang mana saja-- yang mencerap materi. Lalu penginderaan tersebut berpindah ke dalam otak sehingga otak mampu mengeluarkan


Bagaimana pun juga duduk persoalannya, para pemikir komunis boleh dikatakan satu-satunya pihak yang berusaha secara serius untuk memahami makna akal. Mereka telah menempuh jalan yang lurus untuk mengetahui fakta akal. 

Baca : Definisi Akal Menurut Pemikir Komunis

Meskipun mereka keliru dalam mendefinisikan akal dan menyimpang dari jalan yang mereka tempuh untuk mencapai pengetahuan tersebut secara meyakinkan dan pasti, tetapi mereka telah membuka jalan bagi generasi sesudahnya yang menempuh jalan untuk mencapai pengetahuan tentang fakta akal secara meyakinkan dan pasti.

Memang benar, kaum Muslim mempunyai dalil yang menunjukkan bahwa informasi terdahulu tentang sesuatu merupakan perkara yang harus ada agar sesuatu tersebut dapat dipahami. 

Meskipun ini memang benar, tetapi yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa definisi akal merupakan deskripsi mengenai suatu fakta, dan yang dikehendaki dari definisi akal adalah agar seluruh manusia terikat dengan definisi tersebut. Maka dari itu, definisi akal harus dibangun atas dasar realitas yang ada (musyahad) yang dapat diindera (mahsus), karena yang dikehendaki adalah agar seluruh manusia —bukan kaum Muslim saja— terikat dengan definisi tersebut.


Di dalam al-Quran, Allah Swt berfirman:

Allah telah mengajarkan [memberi informasi] kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian Allah mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Mahatahu dan Mahabijaksana.” Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda-benda itu!” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda-benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa saja yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (TQS. al-Baqarah [2]: 31-33)

Ayat ini menunjukkan bahwa informasi terdahulu mesti ada untuk sampai pada pengetahuan apa pun. Nabi Adam as telah diberi informasi oleh Allah Swt tentang nama benda-benda, atau apa yang ditunjukkan oleh nama-nama tersebut. 

Oleh karena itu, ketika benda-benda tersebut disodorkan ke hadapan Nabi Adam, dia langsung mengetahuinya. Manusia pertama, yaitu Adam, sesungguhnya telah diberi sejumlah informasi oleh Allah hingga ia bisa mengetahui nama-nama benda-benda. Seandainya saja berbagai informasi tersebut tidak ada, Adam tentu tidak akan mengetahuinya.

Mengingat sumber penyimpangan dari jalan yang ditempuh oleh para pemikir komunis --dalam memahami fakta akal-- terletak pada keharusan adanya informasi terdahulu ini, maka ayat tersebut sebenarnya sudah cukup untuk menjelaskan kekeliruan mereka dalam mendefinisikan akal dan segi penyimpangan mereka. 

Ini juga cukup untuk menunjukkan bahwa proses berpikir tidak akan bisa terwujud kecuali dengan adanya informasi terdahulu tentang fakta yang disodorkan ke dalam otak. Hanya saja, karena yang dikehendaki adalah agar seluruh manusia —bukan hanya kaum Muslim saja— terikat dengan definisi akal, maka harus diketengahkan realitas yang ada (musyahad) yang dapat diindera (mahsus), yakni bahwa informasi terdahulu tentang fakta adalah sesuatu yang harus ada untuk mewujudkan pemikiran, atau agar akal bisa terbentuk atau terwujud. 

Ini disebabkan keberadaan akal sangat bergantung pada adanya informasi terdahulu pada otak, meskipun fakta merupakan syarat penting bagi terwujudnya akitivitas akal, pemikiran, atau proses berpikir.

Dengan demikian, tidaklah cukup untuk menyadari bahwa segi penyimpangan kaum komunis –dari jalan lurus yang mereka tempuh tetapi kemudian mereka menyimpang— adalah bahwa yang terjadi itu penginderaan/pencerapan otak terhadap fakta, bukanlah refleksi. 

Ini tidak cukup, karena mengetahui segi penyimpangan ini adalah mudah, dan bukan merupakan dasar penyimpangan mereka. Dasar penyimpangan mereka justru masalah keharusan adanya informasi terdahulu (ma‘lumât sâbiqah) tentang fakta. Dengan adanya informasi terdahulu, aktivitas berpikir atau eksistensi akal dapat diwujudkan.

Sebagaimana telah disadari, bahwa yang terjadi adalah pencerapan otak terhadap fakta, bukan refleksi fakta terhadap otak. Sebelumnya, dari pemahaman terhadap ayat al-Quran al-Karîm di atas, dan juga dari pemaparan realitas yang dapat ditangkap indera, telah dihasilkan sebuah kesadaran bahwa informasi terdahulu tentang fakta atau tentang apa saja yang berkaitan dengan fakta, merupakan perkara yang harus ada dalam mewujudkan akal atau kesadaran (idrâk). 

Tanpa adanya informasi terdahulu, mustahil akal atau kesadaran dapat diwujudkan. Dengan begitu, akan bisa diketahui makna akal, lalu definisi akal secara sahih dalam bentuk yang meyakinkan dan pasti.

Bahwa yang terjadi dalam proses berpikir atau aktivitas akal (‘amaliyah aqliyah) adalah penginderaan/pencerapan (ihsas), bukan refleksi (in’ikas), dapat dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada proses refleksi antara materi (fakta yang terindera, tangible thing) dan otak. Jadi otak tidak direfleksikan pada materi atau sebaliknya materi juga tidak direfleksikan pada otak. Sebab, refleksi (proses pemantulan) membutuhkan adanya reflektivitas (kemampuan memantulkan) yang bisa merefleksikan sesuatu, seperti halnya cermin dan cahaya. Jadi cermin dan cahaya membutuhkan kapasitas refleksi untuk memantulkan materi. Hal ini tidak ada pada otak ataupun materi. 

Karena itu, tidak ada sama sekali proses refleksi antara materi dan otak, karena materi tidak direfleksikan ke dalam otak atau tidak dipindahkan ke dalam otak. Yang berpindah adalah penginderaan (atau pencerapan) materi ke dalam otak melalui panca indera. 

Artinya, panca inderalah --yang mana saja-- yang mencerap materi. Lalu penginderaan tersebut berpindah ke dalam otak sehingga otak mampu mengeluarkan penilaian (hukm, judgement) atas materi.

Pemindahan pengindaraan materi ke dalam otak bukanlah proses refleksi materi terhadap otak atau sebaliknya refleksi otak terhadap materi. Yang terjadi hanyalah penginderaan materi oleh panca indera. Tidak ada perbedaan antara mata dan indera lainnya.

 Maka proses penginderaan materi dapat terjadi melalui perabaan, penciuman, pengecapan, pendengaran, atau penglihatan. Dengan demikian, yang terjadi pada berbagai objek-objek bukanlah refleksi terhadap otak, melainkan penginderaan terhadap objek-objek tersebut. Artinya, manusia mengindera benda-benda melalui panca inderanya, dan bukan benda-benda tersebut yang direfleksikan ke dalam otak manusia.

Kenyataan di atas sangat jelas, sejelas cahaya matahari yang menimpa objek-objek material, yakni bahwa pencerapan atau penginderaanlah yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan objek-objek non-material seperti objek-objek yang bersifat maknawi atau spiritual (ruhani), maka sebenarnya terjadi juga penginderaan (pencerapan) terhadap objek-objek tersebut hingga dihasilkan aktivitas berpikir terhadapnya.

 Berkenaan dengan suatu masyarakat yang mundur, harus terjadi penginderaan hingga dapat diputuskan bahwa suatu masyarakat mengalami kemunduran. Realitas kemunduran masyarakat jelas bersifat material. Berkenaan dengan hal-hal yang menodai kehormatan, harus ada penginderaan mengenai penodaan yang terjadi, atau penginderaan bahwa suatu benda atau tindakan telah menodai kehormatan.

 Dengan begitu, bisa diputuskan bahwa telah terjadi penodaan atau ada sesuatu yang tajam yang telah melukai atau menodai kehormatan. Ini adalah perkara yang bersifat maknawi. 

Demikian pula mengenai hal-hal yang bisa menimbulkan kemurkaan Allah, harus ada penginderaan terhadap [sebab] kemurkaan Allah yang terjadi, atau penginderaan terhadap tindakan atau sesuatu yang bisa menimbulkan kemurkaan Rabbul Izzati (Allah), yakni yang dapat menyulut api kebencian dan bara kemarahan bagi Adz-Dzat Al- ‘Illiyah (Allah). Ini adalah masalah yang bersifat spiritual (ruhani).

Tanpa ada proses penginderaan dalam semua hal di atas, jelas tidak akan terwujud akivitas akal (’amaliyah aqliyah). Proses penginderaan merupakan hal yang mesti ada agar terjadi aktivitas akal, baik untuk objek-objek material maupun objek-objek non-material. Hanya saja, proses pencerapan terhadap objek-objek yang bersifat material akan terjadi secara alamiah, meskipun akan dapat berlangsung secara kuat atau lemah sesuai pemahaman seseorang terhadap karakter objek yang dicerapnya. 

Oleh karena itu, para pemikir menyatakan bahwa pencerapan yang muncul dari kesadaran atau pemikiran (al-ihsâs al-fikrî) adalah jenis pencerapan yang paling kuat. Sebaliknya, proses percerapan terhadap objek-objek non-material sesungguhnya tidak akan terjadi, kecuali dengan adanya pemahaman terhadapnya atau dengan jalan taklid.

Bagaimanapun keadaannya, fakta bahwa yang terjadi adalah proses pencerapan, bukan refleksi, sesungguhnya merupakan hal yang nyaris merupakan aksioma (sesuatu yang tidak perlu dibuktikan lagi). Meskipun demikian, proses pencerapan terhadap objek-objek yang bersifat material akan tampak lebih jelas daripada objek-objek yang bersifat maknawi. 

Masalah tersebut sebetulnya tidaklah mendasar karena bisa ditangkap oleh indera setiap orang dan tidak ada perbedaan pemahaman di antara mereka. Yang berbeda adalah pengungkapannya, yang kadang-kadang berbeda dengan fakta yang sebenarnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh para pemikir komunis dengan istilah refleksi, dan kadang-kadang sesuai dengan fakta yang sesungguhnya, sebagaimana yang telah kami ungkapkan dengan istilah pencerapan atau penginderaan. Yang menjadi sumber penyimpangan justru masalah informasi terdahulu (ma‘lûmât sâbiqah) tentang fakta.


 Inilah yang menjadikan penyimpangan kaum komunis semakin fatal. Ini pula yang menjadi poin utama dalam pokok bahasan tentang akal, atau merupakan hal dasar dalam aktivitas berpikir.

Kesimpulan dari pokok bahasan tentang informasi terdahulu (ma‘lûmât sâbiqah), adalah bahwa pencerapan saja tidak akan mewujudkan pemikiran (fikr).

 Yang terjadi hanyalah pencerapan saja, atau penginderaan terhadap fakta. Penginderaan yang diulang-ulang sampai jutaan kali sekalipun, meski dilakukan melalui berbagai jenis penginderaan, tetap akan merupakan penginderaan saja, dan sama sekali tidak akan menghasilkan pemikiran.  

Agar terwujud pemikiran, proses penginderaan harus disertai dengan adanya informasi terdahulu pada diri manusia, yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta yang diindera. Dengan demikian, baru akan terwujud pemikiran. Sebagai contoh, kita bisa menghadirkan seseorang yang ada sekarang, siapa pun orangnya. Kita lantas memberikan kepadanya sebuah buku berbahasa Assiriya, sementara ia tidak mempunyai informasi apa pun yang berkaitan dengan bahasa tersebut. 

Kita kemudian membiarkannya mengindera buku tersebut, dengan cara melihat ataupun meraba. Kita memberinya pula kesempatan untuk mengindera buku tersebut sampai sejuta kali. 

Maka, ia pasti tetap tidak akan memahami satu kata pun dari buku tersebut. Baru setelah kita memberikan informasi kepadanya tentang bahasa tersebut atau hal-hal yang yang berkaitan dengan bahasa tersebut, ia akan mampu memikirkan dan memahaminya.

Tidak benar jika dikatakan bahwa realitas tersebut hanya berkaitan dengan bahasa yang merupakan buatan manusia, sehingga membutuhkan informasi tentang bahasa tersebut. Ini karena yang menjadi pokok bahasan adalah aktivitas berpikir, sedang aktivitas berpikir adalah aktivitas akal, apakah berupa aktivitas menilai sesuatu, memahami makna (kata), atau memahami kebenaran (haqiqah, truth). 

Artinya, aktivitas berpikir adalah sama untuk segala hal. Berpikir tentang suatu masalah sama saja dengan berpikir tentang suatu opini. Memahami makna suatu kata sama dengan memahami makna suatu fakta. Masing-masing membutuhkan aktivitas berpikir, karena pada kenyataannya aktivitas tersebut sama dalam semua objek dan semua fakta.

Agar tidak menimbulkan perdebatan mengenai bahasa dan fakta, marilah kita mengambil contoh sebuah fakta secara langsung. Kita mengambil seorang anak kecil yang sudah mempunyai kemampuan mengindera tetapi tidak memiliki informasi.  

Kita letakkan di hadapannya sepotong emas, tembaga, dan batu. Lalu kita membiarkannya mengindera dan mencerap benda-benda tersebut. Maka dia tidak mungkin bisa memahaminya, meskipun penginderaannya dilakukan berulang-ulang dengan berbagai macam panca inderanya.  

Akan tetapi, jika ia diberi informasi terdahulu tentang ketiga benda tersebut, kemudian dia menginderanya, maka dia akan menggunakan informasi itu hinggga dia mampu memahami hakikat tiga benda tersebut.  

Andaikata anak tersebut telah dewasa hingga berusia 20 tahun, sementara dia tidak mempunyai informasi tentang apa pun, maka keadaannya akan tetap seperti semula, yaitu hanya bisa mengindera benda-benda tanpa bisa memahaminya, meskipun otaknya telah mengalami perkembangan. Ini disebabkan, yang menjadikan dirinya bisa memahami sesuatu bukanlah otak, melainkan informasi-informasi terdahulu disertai dengan fakta-fakta yang diinderanya.

Mari kita ambil contoh lain, seorang anak yang berusia empat tahun, yang sebelumnya tidak pernah melihat atau mendengar tentang singa, juga tidak pernah melihat timbangan dan mendengar tentangnya. Dia juga tidak pernah melihat atau mendengar tentang anjing dan gajah.  

Jika kita menyodorkan keempat benda tersebut atau gambarnya kepadanya lalu memintanya untuk mengenali masing-masing benda tersebut, atau mengenali namanya —benda apakah itu— maka dia tidak akan mengetahui apa pun. Pada diri anak tersebut tidak mungkin terbentuk aktivitas berpikir apa pun tentang keempat benda tersebut. 

Jika kita menyuruhnya menghafal nama-nama benda tersebut, sementara dia jauh dari benda-benda itu dan kita tidak menghubungkannya dengan nama-namanya, lalu kita hadirkan keempat benda itu ke hadapannya dan kita berkata, “Inilah nama-namanya. Nama-nama yang telah engkau hafal adalah nama-nama benda ini,” maka anak tersebut pasti tidak akan mengetahui nama masing-masing dari keempat benda tersebut. 

Akan tetapi, jika kita menyebutkan nama-nama benda tersebut disertai fakta atau gambarnya di hadapannya, seraya menghubungkan nama-nama tersebut dengan faktanya hingga dia mampu menghafal nama masing-masing yang dihubungkan dengan bendanya, maka ketika itu dia akan memahami keempat benda tersebut sesuai dengan nama- namanya. 

Dengan kata lain, dia akan memahami benda apakah itu, apakah singa atau timbangan, tanpa melakukan kesalahan. Jika kita berusaha merancukan pemahamannya, dia pasti tidak akan menyetujui Anda. Artinya, secara konsisten dia akan menyatakan bahwa yang ini adalah singa seraya menunjuk gambar singa, atau ini adalah timbangan seraya menunjuk gambar timbangan. Demikian seterusnya. 

Jadi, pokok masalahnya tidak berkaitan dengan fakta ataupun pencerapan atas fakta tersebut, melainkan berkaitan dengan informasi terdahulu tentang fakta tersebut, atau sejumlah informasi yang berhubungan atau terkait dengan fakta tersebut sesuai dengan pengetahuan anak itu.

Dengan demikian, informasi terdahulu tentang suatu fakta atau yang berkaitan dengan fakta, adalah syarat mendasar dan utama demi terwujudnya aktivitas berpikir atau demi terbentuknya akal.

 Semua ini adalah penjelasan aspek kesadaran rasional (al-idrâk al-‘aqlî, rational comprehension), yaitu kesadaran yang muncul dari akal. Adapun aspek kesadaran emosional (al-idrâk asy-syu‘ûrî, emotional comprehension), yakni kesadaran yang muncul dari perasaan, maka ia adalah kesadaran yang muncul dari naluri-naluri (al-ghara`iz, instincts) dan kebutuhan fisik (al-hajat al-‘udhwiyah, organic needs).

 Kesadaran emosional ini, sebagaimana terdapat pada hewan, juga terdapat pada manusia. Jika kepada seseorang kita berikan apel dan batu secara berulang-ulang, dia pasti akan mengetahui bahwa apel bisa dimakan sedangkan batu tidak bisa dimakan. Keledai pun akan mengetahui bahwa gandum (barley) bisa dimakan sedangkan tanah tidak. 

Namun demikian, kemampuan membedakan ini bukanlah pemikiran atau kesadaran, melainkan berasal dari naluri dan kebutuhan fisik. Hal ini terdapat pada hewan sebagaimana terdapat juga pada manusia. Dengan demikian, tidak mungkin terwujud pemikiran, kecuali jika terdapat informasi-informasi terdahulu disertai dengan proses transfer penginderaan fakta melalui panca indera ke dalam otak.

Apa yang menjadi ketidakjelasan bagi banyak orang adalah, bahwa informasi terdahulu ini dianggap bisa dihasilkan melalui proses percobaan (eksperimen) yang dilakukan sendiri oleh seseorang, atau bisa diterima dari pihak lain. Menurut mereka, percobaan-percobaan bisa mewujudkan informasi.

 Percobaan yang pertama itulah yang akan mewujudkan aktivitas berpikir. Ketidakjelasan ini bisa dihilangkan hanya dengan memperhatikan dua hal, yaitu : (1) perbedaan otak manusia dengan otak hewan dilihat dari kemampuan masing-masing dalam mengaitkan fakta dengan informasi, dan (2) perbedaan antara aspek yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik, dengan aspek yang berkaitan dengan penilaian atas berbagai benda (asy-syai`, matter), benda apakah itu.

Perbedaan otak manusia dengan otak hewan, ialah bahwa pada otak hewan tidak terdapat kemampuan mengaitkan informasi. Yang ada hanyalah kemampuan mengingat kembali penginderaan (istirja’ al-ihsas, recollection of the sensation), terutama ketika penginderaan dilakukan secara berulang-ulang.

 Kemampuan mengingat kembali ini, yang dilakukan hewan secara alamiah, khusus terdapat pada hal-hal yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik. Tidak berkaitan dengan perkara-perkara di luar dua hal ini. 

Jika Anda memukul lonceng dan memberi makan anjing ketika lonceng dipukul, maka —bila ini dilakukan berulang- ulang— anjing akan bisa mengerti bahwa jika lonceng dibunyikan, berarti makanan akan segera datang, sehingga mengalirlah air liurnya. Begitu pula jika keledai jantan melihat keledai betina, hasrat seksualnya akan segera bangkit. 

Akan tetapi, jika keledai jantan tersebut melihat anjing betina, hasrat seksualnya tidak akan bangkit. Sapi yang sedang digembalakan juga akan menjauhi rerumputan yang beracun atau yang membahayakannya.

Semua contoh tersebut dan yang sejenisnya hanyalah merupakan pembedaan yang bersifat naluriah (at-tamyiz al-gharizi, instinctive differentiation). Sedangkan apa yang sering disaksikan orang, bahwa sebagian hewan yang telah dilatih mampu melakukan gerakan-gerakan atau aktivitas-aktivitas tertentu yang tidak berkaitan dengan nalurinya, maka sebenarnya hewan itu melakukannya semata didasarkan pada proses mencontoh dan meniru.

 Tidak didasarkan pada pemikiran atau kesadaran. Ini karena pada otak hewan tidak terdapat kemampuan untuk mengaitkan informasi. Yang ada pada hewan hanyalah kemampuan mengingat kembali penginderaan dan kemampuan membedakan yang semata- mata muncul dari naluri. Setiap hal yang berkaitan dengan nalurinya akan diinderanya dan segala hal yang telah diinderanya akan mampu diingatnya kembali, terutama jika penginderaan itu dilakukan secara berulang-ulang. 

Artinya, apa saja yang berkaitan dengan naluri akan dilakukan oleh hewan secara alamiah, baik melalui proses penginderaan atau melalui proses mengingat kembali penginderaan tersebut. Sebaliknya, hal-hal yang tidak berkaitan dengan naluri, tidak mungkin dilakukannya secara alamiah jika ia menginderanya. Tapi jika hewan itu mengulang-ulang penginderaannya dan mengingat kembali penginderaannya, ia akan mampu melakukan sesuatu karena mencontoh dan meniru, bukan karena melakukannya secara alamiah.

Ini berbeda dengan otak manusia. Pada otak manusia terdapat kemampuan mengaitkan informasi (dengan fakta), bukan hanya kemampuan mengingat kembali penginderaan. Contohnya, jika seseorang melihat seorang lelaki di Baghdad, kemudian setelah sepuluh tahun ia kembali melihatnya di Damaskus, maka dia akan segera mengingat kembali penginderaannya akan laki-laki tersebut. 

Akan tetapi, karena pada dirinya tidak terdapat informasi tentang lelaki itu, ia tidak akan memahami apa pun tentang lelaki itu. Berbeda halnya jika ketika ia melihat lelaki itu di Baghdad, lalu memperoleh informasi tentang lelaki tersebut. 

Maka ia akan mampu mengaitkan kehadiran lelaki tersebut di Damaskus dengan sejumlah informasi terdahulu tentang dirinya dan memahami maksud kehadirannya di Damaskus. Ini berbeda dengan hewan. Walaupun hewan mampu mengingat kembali penginderaan terhadap lelaki tersebut, ia tetap tidak akan mampu memahami maksud kehadirannya di Damaskus. 

Hewan hanya mampu mengingat kembali lelaki tersebut terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan nalurinya ketika dia mengindera lelaki tersebut. Jadi, hewan hanya mampu mengingat kembali penginderaannya, tetapi tidak mampu mengaitkan informasi dengan faktanya, walaupun informasi tersebut diberikan melalui proses pelatihan dan peniruan. Lain halnya dengan manusia. Manusia mampu mengingat kembali penginderaannya dan sekaligus mampu mengaitkan informasi yang ada dengan faktanya. 

Dengan demikian pada otak manusia terdapat kemampuan mengingat kembali penginderaan dan mengaitkan informasi, sedangkan pada otak hewan hanya terdapat kemampuan mengingat kembali penginderaan.

Adapun perbedaan aspek yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik, dengan aspek yang berkaitan dengan penilaian atas berbagai benda (asy-syai`, matter) –benda apakah itu— dapat dijelaskan sebagai berikut. Bahwa apa yang menyangkut naluri, manusia bisa mengingat kembali penginderaannya melalui proses penginderaan yang berulang-ulang. Manusia bisa pula, dengan kemampuan otak manusia untuk mengaitkan informasi, untuk membentuk berbagai informasi (ma’lumat), dari sekumpulan apa yang telah didapatkannya dari proses penginderaan dan proses pengingatan kembali penginderaan.

 Manusia juga mampu mengingat kembali berbagai penginderaan yang dilakukannya dengan berbagai informasi terdahulu, pada hal-hal yang menyangkut naluri dan kebutuhan fisiknya. Akan tetapi, manusia tidak akan mungkin mengaitkan berbagai informasi tersebut pada hal-hal yang tidak berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisiknya. 

Dia tidak akan bisa mengaitkan berbagai informasi tersebut untuk menilai suatu benda, benda apakah itu. Oleh karena itu, banyak orang mengalami kerancuan untuk membedakan aktivitas mengingat kembali penginderaan (‘amaliyah al-istirja’) dengan aktivitas pengaitan informasi (‘amaliyah ar-rabth). Aktivitas mengingat kembali penginderaan tidak akan tewujud kecuali pada aspek yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik. 

Sebaliknya, aktivitas pengaitan informasi, terdapat pada segala sesuatu, baik yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik, maupun yang berkaitan dengan penilaian atas segala sesuatu benda, benda apakah itu. Artinya, informasi terdahulu harus ada dalam aktivitas pengaitan, dan keunggulan manusia atas hewan tak lain terletak pada kemampuan mengaitkan informasi ini.

Atas dasar ini, fakta bahwa manusia bisa membuat perahu kayu dari pengetahuannya akan sepotong kayu yang terapung, adalah sama dengan fakta seekor kera yang setelah melihat pisang yang tergantung pada tandannya, dia tahu jatuhnya pisang tersebut mungkin terjadi dengan cara memukul tandannya dengan tongkat atau benda lainnya. 

Kedua contoh ini berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik. Meskipun telah terjadi proses pengaitan dan telah terbentuk pula informasi, sesungguhnya yang terjadi adalah proses mengingat kembali penginderaan, bukan proses pengaitan informasi. Karena itu, ini bukanlah aktivitas berpikir atau tidak menunjukkan adanya akal atau pemikiran. Sebaliknya yang menunjukkan adanya akal atau pemikiran, atau adanya aktivitas berpikir secara nyata, adalah aspek penilaian atas sesuatu. 

Dan penilaian itu sendiri tidak akan bisa terjadi, kecuali dengan adanya proses pengaitan dan pengaitan dengan informasi terdahulu. Dengan demikian, informasi terdahulu mesti ada dalam setiap aktivitas pengaitan, agar akal atau pemikiran dapat dibentuk. Dengan kata lain, informasi terdahulu harus ada agar aktivitas akal dapat terwujud.

Banyak orang berusaha menjelaskan bagaimana manusia pertama bisa memperoleh pemikiran dan melangsungkan proses berpikir dari percobaan- percobaan yang dilakukannya dan dari pembentukan berbagai informasi yang dihasilkan dari percobaan-percobaan tersebut. 

Mereka menjelaskan itu semua untuk mendapatkan kesimpulan, bahwa refleksi fakta terhadap otak atau pencerapan yang dilakukan manusia terhadap fakta, dapat menjadikan manusia berpikir, dan membentuk aktivitas akal, atau mewujudkan pemikiran –atau proses berpikir-- padanya. 

Namun telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa ini adalah proses mengingat kembali penginderaan (istirja’) dan bukan proses pengaitan informasi, dan bahwa ini khusus berkaitan dengan naluri dan tidak berkaitan dengan proses penilaian atas sesuatu. 

Penjelasan ini sesungguhnya telah cukup untuk membantah dan menggugurkan pendapat mereka itu. Namun demikian, yang menjadi pokok bahasan sebenarnya bukanlah perihal manusia pertama, tidak pula berkaitan dengan berbagai asumsi, spekulasi, dan fantasi. Pokok

 

masalahnya sebenarnya berkaitan dengan manusia itu sendiri, sebagai manusia. Artinya, seharusnya kita tidak mengambil manusia pertama untuk kemudian dianalogikan dengan manusia sekarang, karena dengan begitu kita berarti telah menganalogikan sesuatu yang nyata bertolak dari sesuatu yang gaib. Seharusnya kita mengambil manusia sekarang —manusia yang ada di hadapan kita, yang bisa kita saksikan dan kita indera— untuk kemudian dianalogikan dengan manusia pertama. 

Dengan demikian, kita berarti telah menganalogikan sesuatu yang gaib bertolak dari sesuatu yang nyata. Dan apa yang berlaku pada manusia saat ini — yang bisa diindera dan disaksikan secara langsung— berlaku pula untuk setiap manusia, termasuk manusia pertama. Oleh karena itu, kita tidak boleh memutarbalikkan argumen. Kita harus mendatangkan argumen dengan cara yang benar.

Maka dari itu, kepada manusia sekarang yang ada di hadapan kita dan dapat kita indera, kita lakukan aktivitas akal untuk menelitinya, pada aspek yang berkaitan dengan naluri dan aspek yang berkaitan dengan penilaian atas segala sesuatu, apakah sesuatu itu. 

Kita bisa melihat adanya kemampuan mengingat kembali penginderaan, kemampuan mengaitkan informasi, serta perbedaan di antara keduanya. Kita bisa menyaksikan bahwa informasi terdahulu harus ada dalam aktivitas pengaitan pada diri manusia, dan harus ada pula dalam aktivitas akal. Ini berbeda dengan kemampuan mengingat kembali penginderaan. 

Kemampuan ini ada pada manusia maupun hewan. Kemampuan ini tidak bisa membentuk aktivitas akal. Dan kemampuan mengingat kembali penginderaan, bukanlah akal, pemikiran, atau proses berpikir. Anak kecil yang tidak mengetahui benda-benda dan tidak mempunyai informasi, yang bisa mengambil informasi- informasi, adalah bukti nyata tentang makna akal.

Berdasarkan paparan tersebut, akal sebenarnya tidak dijumpai kecuali pada diri manusia dan aktivitas akal hanyalah bisa dilakukan oleh manusia saja. Naluri dan kebutuhan fisik bisa dijumpai pada manusia maupun hewan, dan penginderaan --yang berkaitan dengan naluri dan kebutuhan fisik-- bisa dilakukan oleh manusia maupun hewan. 

Kemampuan mengingat kembali penginderaan- penginderaan ini, juga terdapat pada manusia maupun hewan. Tetapi ini semua bukanlah akal (‘aql), kesadaran (idrâk), pemikiran (fikr), maupun proses berpikir (tafkîr), melainkan hanya pembedaan yang berdasarkan naluri (tamyîz gharîzî).

 Adapun akal, membutuhkan adanya otak yang memiliki kemampuan mengaitkan informasi-informasi. Kemampuan ini tidak dijumpai kecuali pada manusia. 

Atas dasar ini, aktivitas akal tidak akan terwujud, kecuali dengan adanya kemampuan mengaitkan. Kemampuan mengaitkan yang dimaksud, adalah kemampuan mengaitkan informasi dengan fakta. Aktivitas akal seperti apa pun, baik yang dilakukan oleh manusia pertama maupun manusia sekarang, pasti membutuhkan informasi terdahulu tentang fakta. Informasi terdahulu tersebut mesti ada pada manusia sebelum adanya fakta yang akan dipikirkannya.

Dari sini dapat dijelaskan, bahwa pada diri manusia pertama harus ada informasi terdahulu tentang fakta, sebelum fakta ini disodorkan kepadanya. Inilah yang ditunjukkan oleh firman Allah tentang Nabi Adam as sebagai manusia pertama. Allah Swt berfirman:

Allah telah memberikan pengajaran (informasi) seluruh nama benda-benda kepada Adam. (TQS. al-Baqarah [2]: 31)

Kemudian, Allah Swt berfirman kepada Nabi Adam as:

Adam, informasikanlah kepada mereka (para malaikat) nama-nama benda- benda itu! (TQS. al-Baqarah [2]: 33)

Informasi terdahulu adalah syarat mendasar dan pokok dalam aktivitas akal, yakni syarat mendasar untuk memahami makna akal.

Dengan demikian, para pemikir komunis telah menempuh suatu upaya untuk mengetahui makna akal. Mereka kemudian memahami bahwa untuk melakukan aktivitas akal mesti ada fakta. Mereka juga memahami bahwa agar terwujud aktivitas akal harus ada otak manusia. 

Jadi, mereka sebenarnya telah menempuh jalan yang lurus. Akan tetapi mereka terjerumus dalam kesalahan ketika mengungkapkan hubungan antara otak dan fakta. Mereka mengungkapkannya sebagai refleksi, bukan penginderaan. 

Penyimpangan mereka semakin fatal ketika mengingkari keharusan adanya informasi terdahulu demi terwujudnya aktivitas akal. Padahal, aktivitas akal, bagaimana pun juga, tidak mungkin bisa berlangsung kecuali dengan adanya informasi terdahulu. Oleh karena itu, jalan lurus yang bisa menyampaikan pada pengetahuan tentang makna akal secara meyakinkan dan pasti, adalah harus terwujudnya empat komponen akal agar aktivitas akal (‘amaliyah aqliyah), atau akal (‘aql), dan pemikiran (fikr), dapat terwujud. 

Harus ada fakta, otak manusia yang normal, panca indera, dan informasi terdahulu. Empat komponen akal ini, secara kesluruhan, haruslah dipastikan keberadaannya dan dipastikan kebersamaannya. Dengan begitu, akan terwujud aktivitas akal. Dengan kata lain, akan terwujud akal, pemikiran, atau kesadaran.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka definisi akal (‘aql), pemikiran (fikr), atau kesadaran (al-idrâk) adalah pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut.

Inilah satu-satunya definisi yang benar. Tidak ada definisi selain definisi ini. Definisi ini mengikat seluruh manusia di setiap zaman karena ia merupakan satu- satunya definisi yang dapat mendeskripsikan fakta akal secara benar dan satu- satunya definisi yang tepat untuk fakta mengenai akal.

Dikutip dari Kitab Hakekat Berfikir Karya An Nabhani

Posting Komentar